Makalah

PERAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM MENGAWAL HAK KONSTITUSIONAL WARGA NEGARA
Download
PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK
Download
+ Index

Tanya Jawab

sheila maulida fitri(04-03-2011)
Putusan MK menolak permohonan judicial review UU no. 42 tahun 2008 tentang pemilihan presiden yang diajukan oleh Fajlur Rachman berkaitan dengan calon independent, padahal sebelumnya MK telah menerima secara bulat Judicial Review UU no. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yg diajuka oleh Ronggolawe berkaitan dengan calon independent untuk pemilukada.. pertanyaan saya : Mengapa MK memberikan keputusan yang berbeda-beda untuk substansi persoalan yang sama-sama mempersoalkan calon independent meskipun berbeda tingkatannya ?????
Saudari sebenarnya bisa membandingkan sekaligus mencermati dengan saksama pertimbangan hukum Putusan MK terkait dengan calon independen Kepala Daerah dan calon independen Presiden. Batu uji terhadap Pasal di UUD 1945 untuk kedua permohonan tsb jelas berbeda. Singkatnya, untuk pemilihan kepala daerah menurut Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 hanya menyebutkan "dipilih secara demokratis" tanpa menentukan mekanismenya secara rinci, sementara untuk Pilpres di dalam Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 tegas disebutkan mekanismenya dengan cara "diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan partai politik peserta Pemilu".
Abdul R(03-03-2011)
saya mewakilikekecewaan warga kutai barat,yg pada sidang tgl 3 maret,kami sangat kecewa atas keputusan bapak buat,itu sangat melukai hati kami,semua tuntutan Raja di anggap bohong,seandainya bapak ke tempat kami baru bapak tau pakta semuanya,apa yg di tuntut Raja adalah benar.kami mengerti sekarang MK bukan malaikat,dan semua tau bupati kutai barat paling kaya se indonesia,karena sekarang uang adalah segalanya,hanya Allah membalas kejaliman ini.gimana perasaan bapak saat ini?
Perasaan kami biasa-biasa saja, sebab dalam memutus suatu perkara, Hakim hanya dapat mempertimbangkan pembuktian di dalam persidangan yang dihadirkan oleh para pihak disertai dengan keyakinan para Hakim. Hal ini sama dan sesuai dengan prinsip universal yang diterapkan pada setiap pengadilan di seluruh dunia. Kami tentu sangat memahami kekecewaan yang Saudara alami, sebagaimana dialami juga oleh setiap pihak dalam perkara-perkara lainnya. Semoga kita semua selalu diberikan petunjuk oleh-Nya.
+ Index

Catatan Harian

Yang Ghaib dan Ajaib

Selasa, 20-10-2009 / 08:00:08 (Total view : 2083)
Sebagai muslim saya memahami isi surat surat al Baqarah ayat (3) yang menyebutkan bahwa orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang, antara lain, beriman pada yang Maha Ghaib dan semua keghaiban yang diciptakannya. Saya beriman kepada Allah sebagai al-khaliq yang maha ghaib dan saya percaya pula bahwa Allah menciptakan berbagai keghaiban di alam ini. Allah memberi keghaiban dan keajaiban mukjizat kepada para rasul-Nya, memberikan sihir melalui setan, memberi karomah kepada para wali, memberi maonah dan sebagainya.

Kalau nonton televisi saya sering dibuat keki  oleh iklan masalah ghaib yang tiba-tiba muncul. Misalnya iklan bahwa seseorang bisa meramal atau mengubah nasib orang secara ghaib dengan hanya mengirim SMS nama atau tanggal lahir atau alamat rumah atau nomer telepon. Secara iseng saya pernah mengirim SMS nama saya ke satu alamat seperti yang ditunjuk dalam iklan. Jawabannya, membesarkan hati saya karena menurut pandangan ghaib, melalui SMS balasannya,  saya orang baik, beruntung dan punya masa depan yang cerah. Kemudian, balasan dari pusat pengendali ramalan itu menyarankan agar saya mengirim lagi SMS tentang nama orang-orang yang dekat dengan saya untuk diramal watak dan masa depannya masing-masing.  Ternyata, dan ternyata…..

            Mula-mula saya kirim SMS nama isteri saya. Jawabannya: “Yang bersangkutan pemalu dan perlu didorong agar lebih bersemangat.” Kemudian saya kirim SMS nama anak saya yang nomer satu. Jawabannya: “Yang bersangkutan pemalu dan perlu didorong agar lebih bersemangat.” Kemudian saya kirim SMS lagi nama anak saya yang nomer dua. Jawabannya: “Yang bersangkutan pemalu dan perlu didorong agar lebih bersemangat.” Saya jadi benar-benar kheki, karena nama-nama yang saya kirim berbeda tapi jawabannya persis sama, apalagi isteri dan anak-anak saya tidak ada yang pemalu.  

            Banyak juga ramalan-ramalan konyol yang tetap saja dihadirkan di televisi kita meski tak ada manfaatnya kecuali untuk ditertawakan. Misalnya, kalau tahun baru banyak peramal ditampilkan. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak perlu diramal.  Tahun ini akan ada artis bercerai,  tahun ini akan ada mantan pejabat meninggal, tahun ini akan ada bencana alam, tahun ini bangsa kita akan dilanda banyak musibah.”  

Padahal tanpa diramal pun setiap tahun ada artis bercerai, artis kan sangat banyak, entah di Jakarta atau di kota lain, entah masih muda atau sudah sangat tua, pokoknya artis. Tanpa diramal pun setiap tahun pasti ada mantan pejabat yang meninggal, entah mantan  pejabat tinggi atau pejabat biasa, entah pejabat pusat atau pejabat daerah. Tanpa diramal pun bencana alam selalu terjadi, entah besar entah kecil, entah di laut, entah di gunung; Indonesia ini, kan sangat luas. Tanpa diramalpun musibah selalu terjadi, seperti tabrakan mobil, kereta api, kecelakaan pesawat, kapal laut dan sebagainya. Habisnya, Indonesia ini begitu luas dan besar sehingga secara logis akan ada saja musibah-musibah yang seperti itu, enatah di bagian mana dari Indonesia ini.

            Yang benar dari pesan peramal itu hanya satu: hendaknya kita selalu berhati-hati. Tapi kalau hanya ingin berpesan agar kita selalu berhati-hati itu sebenarnya tak perlu ramalan. Semua orang memang dituntut untuk selalu berhati-hati

 

Keghaiban yang saya percaya

            Tetapi saya juga sangat percaya tentang adanya hal-hal yang ghaib. Sebagai muslim saya memahami isi surat surat al Baqarah ayat (3) yang menyebutkan bahwa orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang, antara lain, beriman pada yang Maha Ghaib dan semua keghaiban yang diciptakannya. Saya beriman kepada Allah sebagai al-khaliq yang maha ghaib dan saya percaya pula bahwa Allah menciptakan berbagai keghaiban di alam ini. Allah memberi keghaiban dan keajaiban mukjizat kepada para rasul-Nya, memberikan sihir melalui setan, memberi karomah kepada para wali, memberi maonah dan sebagainya. Untuk manusia biasa kita bisa melihat banyak keghaiban-keghaiban.   

          Tentu dapat dikatakan sebagai ghaib dan ajaib saat Dedy Corbuzier menulis dengan tepat judul utama berita harian Kompas yang akan terbit seminggu kemudian. Begitu juga kita bisa melihatnya sebagai keghaiban ketika jauh sebelum selesainya penghitungan suara oleh KPU Dedy menulis dengan tepat prosentasi perolehan suara pasangan calon presiden dan wapres pada pemilu  tahun 2009 ini. Mungkin saja ada kekuatan ghaib yang memasukkan tulisan yang sama dengan isi Kompas atau pengumunan KPU ke dalam kotak tulisan yang dibuat oleh Deddy jauh sebelumnya dan kekuatan ghaib itu memasukkan ke dalam kotak tulisan yang dibuat oleh Dedy setelah Kompas menuliskan berita atau KPU mengumumkan hasil perolehan suara pasangan capres-cawapres. Tetapi itu tetaplah keghaiban yang menakjubkan. Dan itu adalah keghaiban yang bersumber dari Allah, terlepas dari mana atau dengan perantaraan apa Dedy menguasainya.

            Jadi saya percaya sepenuhnya adanya keghaiban dan keajabaian itu, tetapi saya meragukan adanya orang yang menawar-nawarkan keahliannya untuk meramal atau mengubah nasib orang lain atau keadaan. Dugaan saya yang bisa ditunjukkan dan ditawar-tawarkan begitu hanya sesuatu yang sekejap bisa ditunjukkan secara ajaib tapi tak bisa seterusnya; misalnya mengubah tisu menjadi uang, tentu tak bisa terus-terusan bahkan tak bisa di luar panggung atau desain tempat dengan keadaan tertentu.

 

Pengalaman ghaib saya

            Pada awal November 1999 secara tak sengaja saya diramal oleh orang yang tak saya kenal. Orang itu adalah keturunan India, datang ke kantor saya (UII Yogya) untuk menemui rektor. Karena rektor tidak ada maka sayalah yang menemui orang itu. Begitu bersalaman dengan saya orang itu tampak setengah kaget dan mengatakan. “Pada bulan ini Bapak akan mendapat berita baik tentang jabatan dan setelah itu akan pergi dari Yogya untuk bekerja di Jakarta,” kata orang itu. Saya tak percaya tetapi berbasa-basi mengucapkan terimakasih. “Saya tahu Bapak ragu, marilah saya tunjukkan sesuatu,“ kata orang itu sambil memunggungi saya dan menulis sesuatu di kertas yang kemudian dilipat. “Coba Bapak tulis warna yang sekarang Bapak sukai, pasti sama dengan yang saya tulis di kertas ini, “ kata orang itu lagi. Saya pun menulis “BIRU” di atas kertas, kemudian orang itu membuka lipatan kertasnya sendiri dan ternyata di sana ada tulisan “BLUE” (biru dalam Bahasa Inggris). Ajaib, kan?

            Orang itu kemudian minta pamit tanpa minta uang, tapi memberi sebuah batu hijau kepada saya sambil mengatakan, “Ini batu dari sungai Gangga.” Benda itu berbentuk batu dan keras tetapi ringan seperti kapas. Karena saya tak percaya pada ramalan itu maka begitu orang itu pergi batunya saya buang ke tong sampah.

            Ajaibnya, tanggal 22 Nopember 1999 saya mendapat telepon dari Pak Syuaiban (Depdiknas) bahwa jabatan guru besar saya sudah disetujui oleh pemerintah. Bulan berikutnya saya ditelepon oleh Menteri Negara Urusan HAM Hasballah M. Saad yang meminta saya menjadi Staf Ahli di kantor kementeriannya. Sejak Nopember 1999 saya memperoleh jabatan profesoor dan tak lama setelah itu saya benar-benar mulai pindah kerja dari Yogya ke Jakarta. Mula-mula saya menjadi Plt. Staf Ahli Menteri Urusan HAM, kemudian menjadi Deputi Menteri, kemudian menjadi Menhan, menjadi Menkum-HAM, menjadi anggota DPR, dan sampai sekarang benar-benar bekerja di Jakarta sampai menjadi hakim konstitusi.

            Pernah terbersit di hati saya untuk mencari orang ajaib itu tapi saya sudah lupa wajahnya; pernah juga saya membongkar tempat sampah di mana saya membuang batu hijau yang beratnya seperti kapas itu tapi batu hijau itu tak dapat ditemukan.

            Ada kejadian lain. Ketika memasuki istana negara untuk ikut upacara proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2008 saya diramal oleh orang Jepang. Semula orang Jepang itu masuk lebih dulu bersama isteri dan anaknya, kira-kira 20 meter di depan saya. Begitu menoleh ke belakang dan melilhat saya orang itu langsung menghentikan isteri dan anaknya. “Berhenti dulu, ini ada pejabat tinggi, kita berfoto bersama dulu,” kata orang itu sambil meminta isteri dan anaknya bersalaman dengan saya. Ternyata meskipun orang Jepang, orang itu lancar berbahasa Indonesia. Kami pun berfoto sampai berapa jepretan. Sambil berfoto-foto saya bilang pada orang itu bahwa saya hakim konstitusi, bukan pejabat tinggi. “Sebentar lagi Bapak jadi pejabat tinggi, auranya tak bisa disembunyikan,” jawab orang itu sambil menyodorkan kartu namanya.   

            Karena pengunjung amat banyak maka saat itu saya duduk berdesakan dengan orang-orang lain yang memang bukan VIP, termasuk duduk berdampingan dengaan Taufikurrahman Ruki (mantan ketua KPK) dan Yusril Ihza Mahendra (mantan mensesneg). Tak tahunya orang Jepang bersama isteri dan anaknya juga terdampar duduk berdesakan di dekat saya. Orang itu mengulangi berkata bahwa saya akan menduduki jabatan penting. Karena agak jengkel saya bilang, “Anda ini siapa sih kok seperti peramal ulung saja?. Coba kalau Bapak ini akan jadi apa?”, kata saya sambil menunjuk Taufikurrahman Ruki. “Kalau bapak ini sudah pensiun tapi akan menjadi orang penting lagi,” kata orang itu. “Kalau ini, akan jadi apa?” kata saya sambil menujuk Yusril. “Wah, kalau ini terlalu tinggi…,” katanya sambil tertawa. Ruki dan Yusril tampak tak pertduli tapi ikut tertawa ketika kami tertawa.

            Pertemuan dengan orang Jepang itu semula tak berkesan dan berlalu begitu saja; bahkan kartu nama yang diberikannya kepada saya tidak saya simpan dengan baik dan saya geletakkan entah di mana. Tapi pada tanggal 19 Agustus 2008 (dua hari setelah saya bertemu dengan orang Jepang yang aneh itu) saya terpilih menjadi Ketua Mahkamah Komnstitusi Republik Indonesia.  Saya ingin menelopon orang Jepang itu tapi kartu namanya sudah tidak ditemukan lagi. Saya selisir semua saku baju, saku celama, saku jas, dan dompet untuk menemukan kartu nama orang itu, tapi tak diketemukan juga. Saat itu saya menyesal tak menyimpan kartu nama itu dengan baik.